Kita meminta agar pemerintah melakukan peningkatan SDM petani dan penyuluh. Bagaimana mungkin kualitas petani bagus jika penyuluh pertanian hanya berijazah SMA.
Program pertanian yang ada sekarang konsepnya tidak mengarah langsung kepada kesejahteraan petani, sehingga dalam pelaksanaannya, kerap dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu. Konsep pertanian sekarang langsung pada target, tidak ada konsep baku bagaimana merealisasikan itu, petani saja kesulitan mendapatkan pupuk apalagi yang bersubsidi.
Sebagai mahasiswa pertanian kita harus dapat mencari solusi yang terbaik atas masalah ini. Kita harus dapat mendongkrak kesejahtraan petani dengan ilmu yang dipelajari selama ini. Kita juga harus dapat menerapkan ilmu yang sudah kita dapat ke petani-petani yang ada di Indonesia.
Masalah pertanian bukan hanya itu tapi juga pada masalah pangan. Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Pangan yang aman, bermutu, bergizi, beragam, dan tersedia dalam jumlah yang cukup merupakan prasyarat utama dalam mendukung pangan nasional guna meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Mutu dan keamanan pangan merupakan masalah penting dalam keseluruhan rangkaian penyediaan produk pangan (from farm to table). Pada saat ini, mutu dan keamanan pangan menjadi perhatian yang mendorong perubahan selera pangan konsumen ke selera pangan global, sehingga kesadaran konsumen terhadap bahan makanan akan meningkat. Hal ini terlihat dari bergesernya permintaan terhadap komoditas yang beralih menjadi permintaan terhadap produk yang berkenaan dengan kualitas, aspek keamanan dan kesehatan.
Beberapa penyimpangan sistem pangan nasional masih terjadi di Indonesia yang dibuktikan dengan masih ditemukannya peredaran produk pangan yang tidak memenuhi persyaratan, kasus keracunan makanan, pembuatan produk pangan dengan memanfaatkan limbah produksi pangan serta kasus mutu dan keamanan pangan lainnya. Data dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengenai kinerja keamanan pangan domestik 2001-2006 menunjukan bahwa terdapat 610 kejadian luar biasa yang dilaporkan yang meliputi 116 kasus mikroorganisme, 66 kasus senyawa kimia, 309 kasus tidak terdeteksi, dan 119 kasus tidak ada samplenya.
Kondisi diatas mencerminkan bahwa penerapan sistem mutu dan keamanan pangan nasional masih belum dilaksanakan secara optimal oleh pihak-pihak yang terkait. Pemerintah sebagai pihak pengatur, pembina, dan pengawas mutu dan keamanan pangan nasional telah berupaya dalam mengoptimalisasi penerapan sistem pangan nasional yang salah satunya diwujudkan dengan membentuk Sistem Keamanan Pangan Terpadu (SKPT). Pada sisi lain, kurangnya tanggung jawab dan kesadaran produsen terhadap mutu dan keamanan produk pangan yang dihasilkan serta rendahnya peranan konsumen sebagai pihak utama yang dirugikan merupakan masalah yang belum bisa terselesaikan untuk mencegah terjadinya penyimpangan mutu dan keamanan produk pangan. Ironisnya, kasus mutu dan keamanan pangan dapat mempengaruhi keberlangsungan pembangunan nasional pada suatu negara.
Implementasi sistem mutu dan keamanan pangan merupakan suatu alternatif dalam meningkatkan eksistensi suatu produk pangan di pasaran. Hal ini sangatlah penting, karena semua pihak yang berkepentingan dengan produk pangan akan merasa diuntungkan. Kesadaran dan komitmen dari pihak-pihak terkait yaitu pemerintah sebagai pemegang kebijaksanaan, produsen sebagai pencipta produk dan konsumen sebagai pemakai produk, merupakan kunci utama dalam mewujudkan pangan nasional yang aman dan bermutu. Selain itu, adanya dukungan teknologi yang canggih akan ikut berperan dalam peningkatan mutu dan keamanan pangan.
Implementasi ini harus disesuaikan dengan tugas dan fungsi masing masing pihak. Dalam hal ini, pemerintah sebagai pengatur, pembina, dan atau pengawas sistem mutu dan keamanan pangan membutuhkan dukungan dari pihak produsen dan konsumen untuk menerapkan sistem mutu dan keamanan pangan. Dari sisi konsumen, pengembangan dan peningkatan pengetahuan serta kepedulian konsumen terhadap mutu dan keamanan pangan produk perlu ditingkatkan. Selanjutnya, dari pihak produsen harus sadar dan berkomitmen untuk menciptakan produk yang aman dan bermutu. Jika tiga pilar pendukung sistem mutu dan keamanan ini sudah berjalan dengan baik sesuai dengan tugas dan fungsinya, maka pangan nasional yang aman dan bermutu akan terwujud dan dapat menciptakan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Semakin vital dan pentingnya peranan pangan turut menyebabkan mutu dan keamanan pangan selalu menjadi pertimbangan pokok dalam perdagangan, baik perdagangan domestik maupun internasional. Implementasi sistem mutu dan keamanan pangan nasional merupakan salah satu solusi yang dapat berperan dalam mempersiapkan dan meningkatkan daya saing produk pangan nasional baik domestik maupun internasional. Asean Free Trade Area (AFTA) 2010 merupakan tantangan serta ajang tedekat yang harus siap dihadapi oleh pelaku industri pangan nasional dalam menunjukkan eksistensi mutu dan keamanan produk pangan yang dihasilkan terhadap produk pangan negara lain yang telah mapan sistem mutu dan keamanan pangannya.
Sehingga kita sebagai mahasiswa pertanian harus mengambil langkah dengan cara: 1.Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya penerapan sistem mutu dan keamanan pangan.
2.Mensosialisasikan urgensi penerapan sistem pangan nasional terhadap mutu dan keamanan pangan nasional.
3.Menghimpun dan memberikan sumbangsih pemikiran untuk meningkatkan mutu dan keamanan pangan nasional.
4.Mendorong pihak-pihak yang terkait dalam bidang pangan untuk lebih memperhatikan dan menindaklanjuti masalah mutu dan keamanan pangan nasional.

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh rakyat Proteksi Tanaman angkatan 44 dan 45. Hari keberangkatan menuju Jawa Barat dan sekitarnya dalam acara Migratoria. Apa sih migratoria itu??? Migratoria yang sebelumnya bernama Olah Tani (OT) adalah semacam field trip turun ke lapang yang bertujuan mengenalkan dunia luar dalam bidang pertanian kepada mahasiswa Proteksi Tanaman sebagai bentuk aplikasi dari teori yang telah dipelajari dan merupakan acara rutin Proteksi Tanaman setiap tahunnya yang akan diresmikan sebagai acara departemen. Acara ini berlangsung selama tiga hari yaitu pada tanggal 25, 26, dan 27 Januari 2010.
Perjalanan pertama kita yaitu menuju Perusahaan Eastwest, Purwakarta. Perusahaan ini bergerak di bidang perbenihan, menciptakan benih-benih unggul yang kemudian akan dipasarkan. Di sana kami mendapatkan penjelasan tentang proses-proses pembuatan benih yang siap pakai. Salah seorang yang menjelaskan tentang proses pembuatan benih adalah alumni IPB. Setelah selesai penjelasan diadakan sesi tanya jawab. Kemudian kita semua diajak berkeliling di pabrik pembuatan benih tersebut. Mulai dari teknik elisa, pengujian benih, pengepackan benih, penyipanan hasil produksi, sampai pemasaran. Dalam sehari dapat menghasilkan berbagai macam benih. Perusahaan ini semakin berkembang karena semakin banyaknya inovasi produk baru yang diciptakan.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Subang dengan kunjungan kedua yaitu di PT Perkebunan Nusantara VIII Jalupang, Subang. PT ini menghasilkan karet dalam jumlah yang cukup besar. Sebelumnya kita mendapat penjelasan tentang kebun karet dan segala penyakit yang menyerang karet tersebut. Hal ini sangat berhubungan dengan mayor kita yang mempelajari hama dan penyakit tumbuhan sehingga banyak manfaat yang dapat diambil. Setelah itu kami semua diajak untuk mengelilingi kebun karet tersebut yang sangat luas dengan medan yang sangat terjal. Kami merasakan sensasi yang belum pernah dirasakan sebelumnya karena kami berkeliling dengan menggunakan truck. Semua peserta migratoria terlihat sangat heboh. Selanjutnya kami akan menuju Garut sebagai kunjungan terakhir pada hari ini, karena kami akan beristirahat di sana. Tetapi sebelumnya kami akan diperkenalkan dengan IPPHTI Garut. Kami menginap di rumah penduduk IPPHTI Garut dan penduduk di sana terlihat antusias dan ramah terhadap kami semua. Tetapi untuk menuju ke rumah penduduk tersebut kami harus menaiki bukit yang cukup jauh dengan medan yang terjal, dalam keadaan gelap dan dengan kondisi tubuh yang sudah lelah. Sesampainya di rumah ketua IPPHTI kami semua dijamu dengan makanan khas sunda.
Pada hari berikutnya kami akan melakukan perjalanan menuju Cisurupan Garut, di sana kami akan turun ke lapang untuk melihat, mengetahui, dan mendeskripsikan secara langsung berbagai macam penyakit yang menyerang tiap tanaman yang berbeda di lapangan. Tetapi sebelumnya kami dibagi dalam kelompok – kelompok. Terlihat berbagai macam penyakit yang menyerang kubis, tomat, kentang, cabai, bunga, dan lain lain. Ternyata semua penyakit yang dipelajari tidak sama seperti yang ada di lapangan. Kami harus banyak belajar dari petani agar mendapatkan referensi tentang penyakit – penyakit dari pengalamannya. Ternyata tidak selamanya petani memperoleh keuntungan, ada kalanya harga jual dipasaran sangat rendah sehingga petani tidak berani memanen. Karena apabila dilakukan pemanenan dan penjualan hasil akan menderita kerugian yang besar sehingga hasil tanaman tersebut dibiarkan di pohon, kadang sampai busuk. Setelah itu kami menuju ke Klinik Tanaman, di sana kami semua berkumpul dan mendapatkan pengarahan dari pihak pengelola dan melakukan diskusi bersama. Diskusi ini membahas segala yang terjadi di lapangan sesuai dengan pengamatan yang telah dilakukan. Beberapa peserta terlihat antusias dengan diskusi ini, tetapi ada juga sebagian peserta yang tertidur pulas karena kelelahan atau mungkin bosan. Kami juga diperkenalkan berbagai jenis petisida serta fungsinya untuk memberatas berbagai jenis hama.
Pada malam harinya, dilakukan sharing bersama petani IPPHTI. Semua peserta tampak mendengarkannya dengan seksama. Setelah itu, diadakan games serta hiburan yang membuat suasana menjadi lebih hidup dari sebelumnya. Hiburan diisi oleh tarian saman dan bernyanyi bersama. Acara pada malam itu ditutup dengan pengarahan untuk hari ketiga.
Setelah dua hari kami menimba pengetahuan, kini tibalah saatnya bagi semua peserta bersenang-senang karena hari terakhir ini adalah acara bebas. Bis melaju menuju kota lautan api, Bandung. Tujuan pertama adalah Kawah Putih, Ciwidey. Kawah Putih merupakan salah satu tempat wisata yang terkenal di Bandung. Di sana terdapat air belerang yang membentang seperti kawah dengan latar pemandangan yang amat indah mempesona setiap mata yang melihatnya. Semua peserta tampak amat gembira dan membuat banyak jepretan foto untuk kenang-kenangan.

Perjalanan dilanjutkan ke Cihampelas. Di sana semua peserta dapat berbelanja sepuasnya dan membeli buah tangan untuk orang-orang tercinta. Acara bebas di Cihampelas menutup perjalanan Migratoria kita tahun ini karena merupakan tempat kunjungan terakhir sebelum kita kembali ke kampus tercinta, IPB Darmaga Bogor.

Nusantara yang dijuluki sebagai Zamrud Khatulistiwa ini mendadak seolah menjadi negeri yang rapuh. Saat musim kemarau datang, tanah menjadi kering dan tandus sehingga tidak dapat ditanami. Ratusan ribu manusia kelaparan, dan banyak yang berakhir pada kematian. Pada saat musim hujan tiba, banjirpun datang menghancurkan semua yang dilewatinya.
Saling menyalahkan, tentu bukan solusi. Sudah cukup lama kekayaan alam dengan keberagaman flora dan fauna tidak dimanfaatkan secara baik. Kenyataan yang terlihat adalah tindakan eksploitasi yang berlebihan tanpa memperdulikan kelestarian alam. Pemanfaatan potensi alam hanya dilakukan dengan orientasi jangka pendek, bukan jangka panjang.
Pemanfaatan sumber daya alam yang tidak berwawasan lingkungan serta rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. Hal sederhana yang akhirnya menjadi “senjata pemusnah massal” bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya di bumi. Ratusan bencana alam “buatan” yang menelan ribuan korban jiwa dan kerugian material yang tidak terhitung jumlahnya terjadi karena kelalaian kita dalam menjaga kelestarian lingkungan. Mulai dari pencemaran limbah industri, tanah longsor, banjir, hingga kebakaran hutan adalah bukti nyata kelalaian kita.
Kita paham betul bahwa bencana seperti banjir, tanah longsor, dan pencemaran lingkungan diakibatkan oleh ulah manusia yang dengan seenaknya mengganggu keseimbangan ekosistem. Siklus alam seperti hujan deras atau musim kemarau panjang hanyalah sebagai pemicu saja. Menebangi pepohonan di hutan lindung, mengalirkan limbah industri ke laut tanpa mengalami proses pengolahan, membuang sampah ke sungai, pembukaan ladang berpindah, serta konversi lahan basah merupakan investasi program jangka panjang terjadinya bencana disana. Tanpa kita sadari, selama ini kita telah merencanakan sejuta bencana yang akan menyengsarakan kita. Seharusnya kita peka dengan teguran-teguran yang diberikan alam kepada kita. Teguran yang berupa hujan deras, musim kemarau berkepanjangan, kotornya udara perkotaan, berkurangnya area pepohonan di hutan, atau pun menumpuknya sampah di sini. Teguran yang menandakan bahwa tak lama lagi akan terjadi bencana yang jauh lebih dahsyat.
Seharusnya dari semua teguran alam, hati nurani kita tersentuh untuk menjaga bumi yang semakin berteriak karena ulah manusia. Untuk itu kita harus menjaga, memperbaiki, dan mengolah bumi untuk anak cucu kita nanti. Mulai dari hal yang terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang juga. Kita biasakan diri kita untuk peduli terhadap lingkungan hidup mulai hari ini. Lakukan tindakan yang nyata. Jadilah teladan di lingkungan keluarga dan ajak ayah, ibu, kakak, atau adik untuk melakukan penghijauan dan menjaga kebersihan lingkungan di sekitar tempat tinggal kita. Ikutlah dalam organisasi-organisasi yang aktif menjaga kelestarian lingkungan atau organisasi kepecintaalaman. Jadilah sukarelawan untuk program peduli lingkungan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Jangan biarkan diri kita hanya berpangku tangan menyaksikan segala bencana dan kerusakan alam di Nusantara.
Kita harus bisa belajar dari bencana hari ini untuk menghadapi ancaman bahaya hari esok. Jangan sampai ketika pohon terakhir telah ditebang, sungai terakhir telah tercemar, ikan terakhir telah ditangkap, dan tetes air terakhir telah berakhir, kita baru menyadari arti pentingnya kelestarian lingkungan hidup bagi kita. Kita harus bisa menjaga warisan berupa tanah air yang gemah ripah loh jinawi dari nenek moyang kita dan kelak kita wariskan lagi kepada anak cucu kita. Jikalau semua itu terlalu muluk, biarlah saya menggantungkan mimpi untuk hidup di Jamrud Khatulistiwa ini dengan penuh kedamaian menikmati alam.